Marquee

Blog ini merupakan sebuah catatan penulis untuk mengumpulkan informasi untuk bekal kehidupan penulis dan ajang bagi generasi muda Desa Kwarakan, Kec Kaloran, Kab Temanggung menambah wawasan dalam hal ilmu pengetahuan dan tehnologi ☼ Mohon maaf apabila ada konten yang kurang berkenan dihati anda ☼ Silahkan kunjungi kami juga di Kwarakan.com ☼ Bagi anda pemuda / pemudi desa kwarakan silahkan bergabung di grup facebook Badak sakti part 2 ☼ Untuk mengenal lebih lanjut profil Desa kami silahkan klik ☼ BUAH KEPELPROFIL DESA KWARAKANKAPULAGAKLENGKENG ANDALAN DESAKUPANILI EMAS HIJAU YANG TERABAIKAN SENGONBERANDA ☼ Mendengarkan / Melihat / unduh Pengajian silahkan klik ► CERAMAH / Pengajian ☼ Membaca AL QURAN silahkan klik ► AL QUR'AN ☼ Membaca contents - contents islam silahkan klik ► CONTENT ISLAM
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juli 2011

Klengkeng Andalan Desaku


Oleh : Priyayi Kwarakan

Kelengkeng ( Dimocarpus longan ) atau sering disebut Lengkeng mata kucing, atau longan, , suku lerak-lerakan atau Sapindaceae) adalah tanaman buah-buahan yang berasal dari daratan Asia Tenggara.

Kerajaan:
Plantae
(tidak termasuk)
Eudicots
(tidak termasuk)
Rosids
Ordo:
Sapindales
Famili:
Sapindaceae
Genus:
Dimocarpus
Spesies:
D. longan
Nama binomial
Dimocarpus longan
Lour.

Deskripsi

Pohon klengkeng dapat mencapai tinggi 40 m dan diameter batangnya hingga sekitar 1 m. Kelengkeng cocok ditanam di daerah yang berketinggian (300-900 m dpl), tipe iklim basah dengan musim kering tidak lebih dari 4 bulan.  Suhu malam dingin selama musim kemarau (15 o - 20 o C) mendorong tanaman berbunga, Dan Desa Kwarakan Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung memenuhi Krtiteria sebagai syarat tumbuh yang baik.
Berdaun majemuk, dengan 2- 4( -6 ) pasang anak daun, sebagian besar berbulu rapat pada bagian aksialnya. Tangkai daun 1- 20 cm, tangkai anak daun 0,5 -  3,5 cm. Anak daun bulat memanjang, panjang lk. 1-5 kali lebarnya, bervariasi 3 - 45 × 1,5-20 cm, mengertas sampai menjangat, dengan bulu-bulu kempa terutama di sebalah bawah di dekat pertulangan daun.
Perbungaan umumnya di ujung (flos terminalis), 4-80 cm panjangnya, lebat dengan bulu-bulu kempa, bentuk payung menggarpu. Mahkota bunga lima helai, panjang hingga 6 mm.
Buah bulat, coklat kekuningan, hampir gundul; licin, berbutir-butir, berbintil kasar atau beronak, bergantung pada jenisnya. Daging buah (arilus)tipis berwarna putih dan agak bening. Pembungkus biji berwarna coklat kehitaman, mengkilat. Terkadang berbau agak keras.
Ada tanaman yang berbunga sempurna maupun hanya berbunga betina atau jantan saja. Tanaman kelengkeng berbunga setahun sekali, biasanya pada bulan Agustus-Oktober dan buah dapat dipanen 4 bulan setelah bunga mekar.  Buah kelengkeng berbentuk bulat besar, kulit hijau kasar ketika masih muda dan kuning kecoklatan setelah tua serta tidak berbulu.  Daging buah bening berair, dengan rasa manis dan aroma yang khas.


Ada beberapa jenis lengkeng, Dimocarpus longan, di antaranya:

ssp. longan var. longanLongan (Ingg.), lengkeng (Ind./Mal.), lamyai pa (Thai). Berasal dari wilayah pegunungan di Myanmar hingga ke Tiongkok selatan. Kini dibudidayakan secara meluas hingga keTaiwan, Thailand, Indonesia, Australia (Queensland) dan Amerika Serikat (Florida).
ssp. longan var. longepetiolatus. Dari Vietnam bagian selatan.
ssp. longan var. obtususLamyai khruer, lamyai tao (Thai). Dari Indochina, dibudidayakan di Thailand.
ssp. malesianus var. malesianus. Matakucing (Malaysia), medaru, medaro, bedaro (Sumatra), ihau (Kaltim), isau, sau, kakus (Serawak). Menyebar di Indochina dan Malesia.
ssp. malesianus var. echinatus. Dari Kalimantan dan Filipina.
Selain lengkeng, jenis-jenis yang lain umumnya hanya diperdagangkan secara lokal.

Kegunaan

Buah-buah ini terutama dimakan dalam keadaan segar. Buah lengkeng, terutama yang berdaging tebal dan besar, dikalengkan dalam sari buahnya di Thailand, Taiwan dan Tiongkok, baik ditambah gula maupun tidak. Lengkeng juga dikeringkan, untuk dijadikan bahan pembuat minuman penyegar.
Seperti halnya lerak, biji lengkeng yang mengandung saponin kadang-kadang dimanfaatkan untuk mencuci rambut. Biji, buah, daun dan bunga lengkeng juga digunakan sebagai bahan obat tradisional, terutama dalam ramuan Tiongkok. Daunnya mengandung quercetin dan quercitrin.
Kayu lengkeng dan kayu bedaro(Dimocarpus malayensis) merupakan kayu yang cukup baik untuk konstruksi ringan dalam rumah dan bahan perkakas.
Kelengkeng berisi phenolic terutama yang terbanyak pada bijinya, seperti asam gallic, corilagin, dan asam ellagic, yang mengindikasikan adanya kandungan antioksidan.
Bijinya juga mengandung saponin, tanin, dan lemak, sehingga kerap dipakai sebagai bahan pembuat sampo dan untuk mengatasi keringat berlebihan. Juga digunakan untuk menghentikan perdarahan. Di Cina, biji kelengkeng dibuat minyak.
Daging buahnya tercatat dipakai secara tradisional untuk obat sakit perut (alat pencernaan), mengusir demam dan membunuh cacing perut, juga penangkal racun. Air seduhan daging buah yang dike­ringkan merupakan penyegar dan obat untuk insomnia, kelelahan kro­nis, perasaan lemah, tidak dapat konsentrasi, tidak nafsu makan.
Di Vietnam, biji kelengkeng dimemarkan dan digunakan untuk mengobati luka akibat gigitan ular karena diyakini dapat menyerap bisa ular. Juga kerap digunakan untuk mengatasi luka bakar. Daun dan bunganya di Cina dijual sebagai herbal.
Daunnya mengandung quercitrin dan quercetin, yang memiliki sifat antioksidan dan antivirus, sehingga bisa diman­faatkan untuk me­ngobati alergi, kanker, diabetes, dan penyakit kardiovasku­lar.
Buah ini banyak mengandung sukrosa, glukosa, protein, lemak, dan asam tartaric yang merupakan sumber energi yang baik. Rasanya sangat manis dan berguna untuk meningkatkan stami­na, terutama sehabis sakit.
Kelengkeng sangat baik untuk memenuhi kebutuhan energi bagi wanita hamil yang lemah atau sete­lah melahirkan. Bila dimakan dalam kondisi segar juga bisa mengurangi demam. Memakan buah ini secukupnya secara teratur dapat menambah nafsu makan, mencegah anemia, dan pemutihan rambut dini. Namun, jika makannya terlalu banyak akan membuat tubuh panas karena kelebihan energi.


Kandungan gizi

Zat besi, magnesium, fosfor, potassium, vitamin A dan C, tiamin, kalsium, serat, protein.

Cara pemakaian

Kulit terbakar

Ambil cangkang kelengkeng yang telah dibakar sampai gosong. Tumbuk halus dan campur dengan minyak tung (aleuritis fordii). Kemudian bubuhkan pada bagian yang terbakar. Ramuan ini tidak saja meringankan rasa panas yang menjalar tapi juga luka bakar tanpa meniggalkan bekas.

Luka borok yang tak kunjung kering

Ambil sedikit cangkang (kulit) kelengkeng atau biji buah, kemudian bakar sampai gosong seperti arang lalu tumbuk halus. Campur dengan minyak zaitun dan sebarkan ke daerah yang luka.

Kulit pendarahan akibat jatuh

Ambil beberapa biji kelengkeng yang telah kering, bakar sampai gosong seperti arang. Lalu tumbuk sampai halus dan sebarkan ke daerah yang luka.
Karena buah kelengkeng merupakan buah musiman, kemungkinan Anda akan kesulitan untuk mendapatkan kulit dan biji kelengkeng disaat membutuhkannya. Ada cara yang bisa Anda pakai, yaitu saat musim kelengkeng tiba. Anda bisa menyimpan kulit dan bijinya dalam wadah khusus.

Caranya, cuci bersih kulit dan biji kelengkeng lalu jemur di bawah terik matahari sampai benar-benar kering, lalu simpan.

Cara Budidaya

Bibit sebaiiknya berasal perbanyakan vegetatif (cangkok dan okulasi).  Tanaman dari biji baru mulai berbuah lebih dari umur 7 tahunJarak tanam agak lebar (8 x 8 m) karena ukuran tajuknya yang lebarPemeliharaan yang penting adalah pemangkasan cabang negatif agar sinar matahari dapat masuk  merata ke tajuk tanaman.

Hama  dan Penyakit yang sering  timbul

Hama yang biasanya menyerang adalah serangga pengisap buah.  Sedangkan penyakit yang sering menyerang di musim penghujan adalah Mildew (seperti yang menyerang buah rambutan).

Waktu Panen

Tanaman mulai berbunga pada umur 5-6 tahun (Juli-Oktober).  Buah matang 5 bulan setelah bunga mekar. Ciri-ciri buah matang adalah warna kulit buah coklat gelap, licin dan mengeluarkan aroma.Produksi buah rata-rata 300-600 kg per pohon.

Di olah dari perbagai sumber


Kamis, 14 Juli 2011

Klinik Herbal : Kapulaga (Amomum cardamomum Wild.)



KAPULAGA  (Amomum cardamomum Wild.)


Oleh : Priyayi Kwarakan


Kapulaga (Amomum cardamomum) selama ini dikenal sebagai rempah untuk masakan dan juga lebih banyak digunakan untuk campuran jamu. 
Di Indonesia, selain untuk beragam ramuan, kapulaga sering digunakan untuk campuran sup buntut dan daging olahan.

Tanaman kapulaga merupakan tanaman herbal yang membentuk rumpun, bentuknya seperti tumbuhan jahe, dan dapat mencapai ketinggian 2-3 meter. pada umumnya kapulaga tumbuh di hutan-hutan yang masih lebat. Kapulaga hidup subur di ketinggian 200-1.000 meter di atas permukaan laut.Dan Kapulaga dapat dibudayakan di Desa Kwarakan Kec Kalora Kab Temanggung karena Wilayah ini terletak pada ketinggian 680 m di atas permukaan laut
Dalam perdagangan internasional, minyak kapulaga dikenal dengan nama Cardamon Oil. Kandungan True Cardamon Oil adalah terpen, terpeneol dan sineol. Sementara False Cardamon Oil selain mengandung tiga bahan tadi juga masih ada kandungan berneol dan kamfernya.



Gbr : Pohon Kapulaga
( foto by Dendra Casanova)



















Klasifikasi ilmiah
Gbr :  Bunga dan Buah
Kapulaga
( foto by Dendra Casanova )


Kerajaan:
Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Liliopsida
Ordo:
Zingiberales
Famili:
Zingiberaceae
Genus:
Amomum
Spesies:
A. compactum,
                                                   Nama binomial
                                                     Amomum compactum
                                                     Soland. ex Maton (1811)

Manfaat Buah Kapulaga

Biji, yang diambil dari tumbuhan sebelum buah masak benar, dapat dimanfaatkan sebagai obat. Dalam dunia obat-obatan biji yang telah dikeringkan dinamakan semen cardamomi. Selain bijinya, yang digunakan untuk obat adalah bagian akar, buah, dan batangnya.
Pemanfaatan kapulaga lokal sebagian untuk industri farmasi dan sebagian lagi sebagai bahan kuliner. Selain untuk kuliner dan industri farmasi, kapulaga juga merupakan bahan minyak atsiri dan oleoresin.
Sifat dan aromanya khas. Karenanya kapulaga sering dimanfaatkan sebagai penyedap masakan. Tak jarang, tanaman semak ini digunakan untuk ramuan pereda gangguan tenggorokan. Kandungan minyak atsirinya bermanfaat sebagai pengencer dahak atau ekspektoran.
Kapulaga mengandung minyak atsiri, sineolterpineol, borneol, protein, gula, lemak, silikat,betakamfer, sebinenamirkena, mirtenal, karvona, terpinil asetat, dan kersik. Dari kandungan tersebut kapulaga memiliki khasiat sebagai obat batuk. Kapulaga juga memiliki khasiat untuk mencegah keropos tulang.
Kapulaga memiliki aroma sedap sehingga orang Inggris menyanjungnya sebagai grains of paradise. Aroma sedap ini berasal dari kandungan minyak atsiri pada kapulaga. Minyak atsiri ini mengandung lima zat utama, yaitu borneol (suatu terpena) yang berbau kamper seperti yang tercium dalam getah pohon kamper.
Beberapa pabrik bumbu juga mengekstrakkan minyak asiri dari biji kapulaga menjadi Cardamom oil yang kemudian dikemas dalam botol. Dalam bentuk minyak ini pula, kapulaga dipakai untuk menyedapkan soft drink dan es krim di pabrik Amerika.
Secara Tradisional kapulaga Dapat dipergunakan sebagai :
  • Batuk pada anak-anak: 15 butir buah kapulaga, 2 cabai jawa, 10 iris lempuyang, 5 cm kayu manis dicuci. Dua bawang merah dikupas, dicuci, diparut. Diseduh dengan 0,5 l air. Tutup tempatnya. Diminum setiap 2 jam sampai sembuh.
  • Batuk: Biji kapulaga dicuci, dikunyak-kunyah. Cairannya ditelan.
  • Perut kembung: 5 biji kapulaga dicuci, 5 iris jahe dicuci sebelum diiris. Rebus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah. Setelah dingin diminum 1x sehari.
  • Mual: 5 biji kapulaga, sepotong kencur 3 cm, cuci, lumatkan. Seduh dengan segelas air. Sesudah dingin disaring. Airnya diminum.
  • Radang tenggorok: 10 buah kapulaga, sepotong kunyit 5 cm dicuci, dimemarkan, diseduh dengan segelas air. Setelah dingin disaring. Airnya separuh diminum pagi, separuh lagi malam. Diulangi selama beberapa hari.
  • Bau mulut: 8 buah kapulaga, 1 cangkir daun pegagan dicuci lalu diseduh dengan 1/2 gelas air. Tutupi. Setelah dingin, disaring dan diminum pagi-pagi pada saat perut masih kosong.
  • Perut mulas karena kedinginan: 4 buah kapulaga dicuci, direbus dengan segelas air sampai airnya tinggal setengah. Saring, minum hangat-hangat. 
Pengenalan

Kapulaga dikenal dengan banyak nama: kapulogo (Jawa); kapol (Sunda); kapolagha, palagha (Madura); kapulaga, karkolaka (bahasa Bali); kapulaga, garidimong (Sulsel); pelaga, puwar pelaga (Sumatera);palaga, puwa palago (Minangkabauk); kapulaga, kardamunggu (Betawi). 
Juga, kepulaga, puar, pelaga (Malaysia); amome à grappe (Peracis); serta Java cardamom, round cardamom, false cardamom (Inggris). Namun ada pula yang mengenalnya sebagai Siamese cardamom, meskipun ini mungkin merujuk pada spesies yang berbeda.

Tanaman kapulaga awalnya memang hidup liar, namun kini kapulaga dibudidayakan sebagai tanaman rempah. Tumbuhan berbatang basah ini memiliki batang berpelepah daun yang membalut batangnya. Letak daunnya berseling-seling. Bunga tumbuhan ini tersusun dalam tandan yang keluar dari rimpangnya.
Buahnya berbentuk bulat telur, berbulu, dan berwarna kuning kelabu. Buahnya berkumpul dalam tandan kecil dan pendek. Bila masak, buahnya akan pecah dan membelah berdasarkan ruang-ruangnya. Di dalamnya terdapat biji yang berbentuk bulat telur memanjang.
Kapulaga berbuah pada umur 3 tahun. Buah kapulaga muncul dari batang semu dekat tanah, dan merayap bersama tandannya yang sepanjang 1 m, ke tanah sekitarnya. Supaya tidak kotor kecipratan tanah kalau hujan, petani pemiliknya menyelipkan lembaran plastik sebagai alas di bawah tandan buah itu.
Buah lonjong sepanjang 1 cm yang bersisi tiga itu dipetik kalau sudah montok, padat berisi, setengah matang. Warna hijaunya sudah berubah hijau muda. Tadinya hijau tua. Ketika berubah warna itulah baunya sangat sedap.
Buah yang sudah kering menjadi keriput, bergaris-garis, berisi 4 – 7 butir biji kecil berwarna coklat kemerah-merahan. Rasanya agak pedas seperti jahe, tetapi baunya tidak.
Kapulaga lokal adalah tanaman dataran rendah. Kapulaga hanya bisa tumbuh baik dan berproduksi optimal pada lahan dengan ketinggian mulai dari 0 sampai dengan 700 meter di atas permukaan laut (m. dpl). Sebaliknya, kapulaga sabrang justru hanya mau tumbuh baik di dataran tinggi mulai dari 700 sampai dengan 1.500 m. dpl.

Buah kapulaga lokal tumbuh berupa dompolan yang menempel di atas tanah. Tiap dompolan berisi antara 10 sampai dengan 20 butiran buah. Buah kapulaga lokal berbentuk bulat. Diameternya sekitar 1 cm. Dalam buah tersebut ada segmen-segmen yang terpisah dan berisi butiran biji. selain itu adalah produktifitasnya. Kapulaga lokal dengan sistem tanam tumpangsari populasi 1.400 tanaman per hektar, akan mampu berproduksi sekitar 2,8 sd. 3 ton buah basah per tahun.

Di Indonesia, yang umum disebut kapulaga adalah A. compactum itulah; sementara di negara-negara yang berbahasa Inggris yang umum disebut cardamom (true cardamom) adalah jenis E. cardamomum(lihat pada catatan di bawah). Uraian berikut ini merujuk pada A. compactum, tumbuhan asli dari Jawa, yang dahulu dikenal sebagai A. cardamomum.


Bunga kapulaga, dengan labellum berhias warna kuning dan merah-ungu
Terna yang kuat, menahun, dan berbau aromatis pada pelbagai bagiannya. Tumbuh mencapai tinggi 2 m, dengan rimpang yang tumbuh menjalar di bawah tanah, agak bulat gilig, gemang 1-2 cm, putih kekuningan, tertutupi sisik-kelopak tak berambut berwarna coklat kemerahan.
Batang-batang semu muncul agak terpisah-pisah, tumbuh tegak 1,5-2 m, bulat gilig berdiameter hingga 2,5 cm, hijau gelap. Daun-daun terletak berseling, duduk, bentuk lanset, 7,5-50 cm × 3-10 cm, pangkalnya perlahan-lahan menyempit, ujungnya meruncing dengan runcingan sepanjang 3 cm, hijau mengkilap dengan banyak bintik yang awalnya putih namun akhirnya merah darah.
Perbungaan muncul langsung dari rimpang, terpisah dari batang semu, adakalanya sebagian terbenam tanah; tandan bertangkai panjang hingga 10 cm, ditutupi oleh sisik-sisik yang rapat, yang tersusun seperti genting dan tidak rontok. Kelopak seperti tabung seperti seludang, 1,3 cm, berambut. Mahkota berupa tuba, bertaju-3, taju 8 mm panjangnya bentuk jorong memita, putih atau kekuningan. Labellumbundar telur lebar, 15-18 mm × 10-15 mm, menyempit di pangkalnya, berambut halus di sisi dalam, kuning dengan pita tengah ungu gelap atau putih (kekuningan) dengan pita tengah kuning diapit garis ungu.Buah kapsul bulat agak tertekan, berdiameter 1-1,5 cm, bergaris-garis rapat dan berambut pendek halus, bermahkota sisa perhiasan bunga. Biji banyak, kecil-kecil, terlindung dalam salut biji (arilus) berwarna Kegunaan


Rimpang, tunas dan tandan buah
Kapulaga terutama ditanam orang untuk buahnya, yang setelah dikeringkan diperdagangkan sebagai bumbu atau rempah-rempah. Kapulaga merupakan unsur penting dalam masakan soto Betawi. Pucuk (tunas) kapulaga digemari sebagai lalap, baik mentah, dikukus, atau direbus.
Dari bijinya diekstrak minyak atsiri yang dimanfaatkan dalam industri parfum dan bahan pewangi. Bijinya juga digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk menyembuhkan sakit perut, batuk, dan sebagai penguat tubuh setelah melahirkan.Air rebusan semua bagian tanaman diminum jika badan terasa lemas dan untuk meringankan sakit rematik. Rimpangnya yang ditumbuk dan dikeringkan dipakai untuk mengatasi demam dan sakit usus.
Biji kapulaga yang dikeringkan mengandung 2-4% minyak esensial, yang terutama terdiri dari 1,8-cineol (hingga 70%), β-pinen (16%), α-pinen (4%), α-terpineol (5%) dan humulen (3%). Rimpang dan akar segar mengandung minyak esensial sekitar 0,1%, yang berisi 1,8-cineol.

Penyebaran dan ekologi

A. compactum adalah tumbuhan asli dan endemik di wilayah perbukitan di Jawa bagian barat. Kini ditanam dan mungkin meliar di berbagai tempat, A. compactum terutama dihasilkan secara komersial dari Jawa Barat ,Jawa Tengah dan Sumatra bagian selatan.
Tanaman ini terutama menyenangi wilayah dengan kelembaban yang tinggi, curah hujan antara 2.500-4.000 mm pertahun, suhu tahunan yang kurang lebih hangat dan stabil (23-28 °C), dan banyak hari hujan (sekurangnya 136 hari dalam setahun). Kapulaga juga menghendaki tempat yang setengah ternaungi, pada tanah-tanah yang terdrainase dengan baik, pH 5-6,8, dan memiliki kandungan bahan organik yang cukup tinggi.

Potensi Produk Buah Kapulaga
Harga kapulaga kering mencapai Rp 40 ribu per kilogram, sedangkan kapulaga basah mencapai Rp 8 ribu per kilogram. Di samping itu, perawatan terhadap tanaman ini tidak terlalu rumit, bahkan sebagian besar menjadi kegiatan sampingan ibu-ibu rumah tangga.
sekarang sudah dapat dipanen dengan masa panen setiap bulan sekali.
Penanaman kapulaga ini sekaligus juga sebagai program pupuk organik yang dilakukan oleh para petani. Mereka memanfaatkan pupuk kandang dan kompos rumah tangga untuk memupuk tanaman ini. Kapulaga dapat tumbuh subur di tempat teduh atau di bawah kayu tegakan Perhutani, yang sebagian besar berupa tanaman pinus
Kapulaga hanya mau tumbuh baik di bawah naungan. Komoditas ini cocok untuk dikembangkan sebagai tanaman tumpangsari pada kebun-kebun tanaman keras. Misalnya di hutan jati, kebun kopi, kakao, petai, jeruk  dan lain-lain yang bagian bawah tegakannya masih menerima sedikit sinar matahari.
Kebun sawit dan karet misalnya, sulit untuk diberi tumpangsari kapulaga karena tajuknya sangat rapat. Bisa juga kapulaga ditumpangsarikan dengan pisang. Satu baris tanaman pisang diselingi dengan satu baris tanaman kapulaga. Untuk naungan kapulaga bisa dipilih lamtoro, glirisidia, kaliandra, albisia atau dadap. Meskipun sudah ditumpangsarikan dengan pisang, apabila tidak diberi naungan khusus, pertumbuhan kapulaga tidak akan optimal.


Catatan

Dalam konteks perdagangan, aneka jenis cardamom (= kapulaga) dihasilkan dari sekurang-kurangnya 4 genera, yakni Aframomum K. Schumann, Alpinia Roxb., Amomum Roxb., dan Elettaria Maton; dengan jenis E. cardamomum yang dianggap sebagai true cardamom.
Marga Amomum sendiri memiliki banyak spesies yang menghasilkan false cardamom (= kapulaga pengganti). Selain A. compactum, yang merupakan jenis kapulaga penting dari Asia Tenggara, ada beberapa spesies penghasil kapulaga yang digolongkan sebagai jenis minor seperti A. acre Val., A. krervanh Pierre, A. ochreum Ridl., A. testaceum Ridl., A. uliginosum Koenig, A. xanthioides Wall., A. xanthophlebium Baker; serta dari luar Asia Tenggara: A. aromaticum Roxb. dan A. subulatum Roxb.


Sumber :
  •  Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 581-583.
  • Wollf, X.Y. and Hartutiningsih. 1999. Amomum compactum Soland. ex Maton, dalam C.C. de Guzman and J.S. Siemonsma (eds.). Plant Resources of South-East Asia 13: Spices. PROSEA. Bogor. ISBN 979-8316-34-7. pp. 68-71.
  • http://www.aagos.ristek.go.id/pangan_kesehatan/tanaman_obat/lipi_pdii/kapulaga.htm
  • Dalimartha, Setiawan. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran : Trubus 



Sabtu, 09 Juli 2011

Kinik Herbal : Buah Kepel

Oleh          : Priyayi Kwarakan


Diolah  : dari berbagai Sumber

Kepel adalah nama pohon dan buah yang mempunyai nama ilmiah Stelechocarpus burahol. Tumbuhan penghasil buah yang menjadi kegemaran para putri keraton Jawa sejak jaman dulu ini kini termasuk salah satu tanaman langka di Indonesia. Pohon Kepel yang dipercaya mempunyai nilai filosofi adhiluhung ini merupakan flora identitas provinsi Daerah Istimewa Jogyakarta.
Buah Kepel ( by Dendra Casanova)

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol ) di beberapa daerah di Indonesia dikenal juga sebagai buah dan pohon kecindul, cindul, simpol, burahol, dan turalak. Dalam bahasa Inggris tumbuhan langka ini dikenal sebagai Kepel Aple

Kerajaan                 :  Plantae
Filum                      :  Magnoliophyta
Kelas                      :  Magnoliopsida
Ordo                      :  Fabales
Famili                     :  Annonaceae
Genus                    :  Stelechocarpus
Species                   :  Stelechocarpus burahol (Blume) ,Hook. & Thomson

Pohon Kepel menjadi kegemaran para putri keraton di Jawa selain lantaran memiliki nilai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik, buah kepel juga dipercaya mempunyai berbagai khasiat dibidang kecantikan. Buah Kepel telah menjadi deodoran (penghilang bau badan) bagi para putri keraton. Sayang justru karena itu masyarakat jelata tidak berani menanam pohon ini sehingga menjadi langka. 
  
Rimbunan Pohon Kepel
(Foto By Dendra Casanova)

Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal. Kayu pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga  dan bahan bangunan yang tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.

Khasiat lain buah kepel adalah sifat diuretiknya yang mampu memperlancar air seni. Oleh sebab itu kepel dipercaya mampu membersihkan ginjal. Sekali lagi sayang, belum ada penelitian ilmiah yang menerangkan zat-zat apa yang menyebabkan sifat diuretik pada kepel. Kabarnya, dengan sifat diuretiknya buah kepel bisa juga digunakan sebagai alat pencegah kehamilan tradisional. Kandungan vitamin C dalam buah kepel sangat tinggi.Wanita hamil yang makan buah kepel dipercaya akan melahirkan bayi yang cantik. Kulit bayi akan terlihat bersih.

Khasiat vitamin C dosis tinggi ini,  membuat kulit menjadi bersih. Dari dalam tubuh kandungan buah kepel ini membersihkan darah, menguatkan liver, paru-paru dan ginjal. Peredaran darah juga menjadi lebih lancar karena darah yang beku menjadi cair .
Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol. Orang yang tidak menyukai lalap dapat minum rebusan daun kepel untuk menurunkan kadar kolesterol. Rebusan ini dibuat dari 7 lembar daun kepel dan 3 gelas air. Air dan daun kepel ini kemudian direbus sampai tersisa satu setengah gelas. Air rebusan daun kepel ini diminum dua kali sehari, masing-masing sebanyak tiga perempat gelas.

Ciri-ciri Kepel. 

Pohon Kepel
( Foto By Dendra Casanova )

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) mempunyai tinggi hingga 25 m dengan diameter batang mencapai 40 cm. Pada kulit batangnya terdapat benjolan-benjolan. Benjolan-benjolan ini merupakan bekas tempat bunga dan buah karena bunga dan buah kepel memang muncul di batang pohon bukannya di pucuk ranting atau dahan.
 Daun Kepel tunggal, lonjong meruncing dengan panjang antara 12 – 27 cm dan lebar 5 – 9 cm. Warna daun Kepel hijau gelap. Bunga berkelamin tunggal, harum. Bunga jantan terdapat pada batang bagian atas atau cabang yang tua bergerombol antara 8 sampai 16. Sedangkan bunga betina hanya terdapat pada batang bagian bawah.
Daun Kepel
( Foto By Dendra Casanova )

Buah Kepel tumbuh memenuhi batang pohonnya. Bentuk buah Kepel bulat lonjong dengan bagian pangkal agak meruncing. Warna buah Kepel (Stelechocarpus burahol) coklat agak keabu-abuan, dan ketika sudah tua akan berubah menjadi coklat tua. Daging buah berwarna agak kekuningan sampai kecoklatan membungkus biji yang berukuran cukup besar. Rasa buah Kepel manis.
Bunga Kepel
( foto By Dendra Casanova )

Habitat dan Persebaran. 

Pohon Kepel atau Burahol tersebar di kawasan Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Indonesia hingga Kepulauan Solomon bahkan Australia. Di Indonesia, terutama di Jawa, Pohon Kepel mulai jarang dan langka.

Pohon Kepel dapat tumbuh di habitat yang berupa hutan sekunder yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.


Konservasi Pohon Kepel.

 Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) menjadi salah satu pohon yang langka. Kelangkaan tanaman ini lebih disebabkan oleh adanya anggapan pohon ini sebagai pohon keraton yang hanya pantas di tanam di istana. Rakyat jelata, khususnya masyarakat Jawa akan merasa takut mendapatkan tuah (kuwalat) jika menanam pohon ini.
Selain itu, sebagian masyarakat juga merasa buah ini malas untuk membudidayakannya. Meskipun memiliki rasa yang manis tetapi sebagian besar isi buah dipenuhi biji sehingga mengurangi minat orang untuk membudidayakannya. 
Kini, pohon langka ini masih dapat ditemui di kawasan keraton Yogyakarta, TMII, Taman Kiai Langgeng Magelang, Desa Kwarakan Kec Kaloran Kab Temanggung dan Kebun Raya Bogor.


Syarat Tumbuh

Kepel tumbuh liar pada tanah lembab dan dalam, di hutan-hutan sekunder di Jawa. Dibudidayakan sebagai pohon buah pada ketinggian mencapai 600 m dpl., dan mau berbuah di Desa Kwarakan Kec Kaloran Kab Temanggung . Jenis ini dapat tumbuh baik di sela-sela rumpun bambu, yang di tempat itu pohon-pohon lain tidak mampu bersaing.
Buah Kepel
( Foto By Dendra Casanova)

Cara Budidaya

Kepel umumnya diperbanyak dari biji yang diambil dari buah matang dan disemaikan secepatnya. Penyetekan dan pencangkokan sudah pernah dicoba, tetapi tidak berhasil. Benihnya dibersihkan dengan jalan dicuci dan dikeringkan di tempat teduh. Sebelum disemai benih diskarifikasi, tetapi perkecambahannya masih memerlukan waktu beberapa bulan. Lambat-laun persentase perkecambahannya tinggi juga. Perkecambahannya hipogeal, akar tunggangnya membengkak dan tidak bercabang untuk beberapa waktu. Mula-mula semai itu tumbuh lambat. Pada saat semai berdaun 3-5 helai, dipindahtanamkan ke dalam pot. Ketika tingginya mencapai 0,5-1,0 m bibit dipindahtanamkan ke lapangan dengan jarak tanam 6-8 meter. Fase yuwananya (vegetative phase, juvenile phase) berlangsung selama 6-9 tahun.

Hama dan Penyakit

Belum ada laporan mengenai hama dan penyakit yang berbahaya, tetapi pohonnya harus dijaga dari serangan kelelawar dan binatang pengerat.

Panen dan Pasca Panen

Buah kepel dianggap matang bila digores kulitnya terlihat bagian bawahnya berwarna kuning atau coklat muda (jika berwarna hijau, buah masih belum matang). Untuk menjaga kualitas, buah kepel dibungkus 1-2 bulan sebelum dipanen, menggunakan anyaman bambu atau daun kelapa atau kantung plastik. Buah dikemas dalam keranjang atau karung dan hendaknya diperlakukan dengan hati-hati; buah kepel dapat bertahan disimpan 2-3 minggu pada suhu ruang.



Entri Populer